Hasil Penelitian metakognisi

Keterampilan Metakognitif Siswa SMP Masih Rendah, Riset UNU Pasuruan dan UKWMS Soroti Pentingnya Belajar “Berpikir tenta

AS
LPPM Admin Manager
Penulis
23 Januari 2025
3 min read
10 views
Image of Keterampilan Metakognitif Siswa SMP Masih Rendah, Riset UNU Pasuruan dan UKWMS Soroti Pentingnya Belajar “Berpikir tenta

Pasuruan – Penelitian kolaborasi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Pasuruan dan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) menemukan bahwa keterampilan metakognitif siswa SMP dalam memecahkan soal sains masih tergolong rendah. Temuan ini didapat dari pemetaan terhadap siswa kelas IX di tiga wilayah berbeda, yakni Surabaya, Banyuwangi, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Penelitian ini dilakukan oleh Nurul Hidayah Almubarokah dan Isnawati Lujeng Lestari dari UNU Pasuruan dan ITSNU Pasuruan, bersama Tri Lestari, Charles Adeputra Sufardi, dan Agustinus Michael dari UKWMS. Hasilnya dipublikasikan dalam jurnal Edumatsains Volume 9 Nomor 2 pada Januari 2025.

Apa Itu Keterampilan Metakognitif?

Keterampilan metakognitif adalah kesadaran seseorang terhadap proses berpikirnya sendiri. Siswa dengan keterampilan ini mampu menyadari apa yang sudah dan belum ia pahami, merencanakan langkah penyelesaian masalah, memantau prosesnya, lalu menilai apakah cara yang dipilih sudah tepat.

Para peneliti menilai keterampilan ini penting di tengah tantangan mutu pendidikan nasional. Mereka merujuk hasil asesmen internasional PISA terbaru, yang mencatat skor Indonesia sebesar 398 untuk sains, 379 untuk matematika, dan 371 untuk membaca. Penurunan ini, menurut sejumlah kajian yang dikutip tim, turut dipengaruhi hilangnya kesempatan belajar (learning loss) selama pembelajaran jarak jauh di masa pandemi Covid-19.

Diuji di Tiga Wilayah

Penelitian melibatkan 85 siswa kelas IX dari tiga sekolah: SMP Negeri 40 Surabaya, SMP Bustanul Makmur Banyuwangi, dan SMPK St. Ignatius Loyola Labuan Bajo, NTT. Ketiga wilayah dipilih untuk mewakili kota metropolitan, kawasan semi-urban, dan wilayah kepulauan.

Siswa mengerjakan tes berisi 10 soal uraian sains yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Soal-soal itu antara lain tentang dampak asap pembakaran sampah terhadap pernapasan, pemilihan lensa untuk gangguan penglihatan, merancang ulang ayunan, hingga cara mengubah air laut menjadi air tawar. Siswa juga mengisi angket, dan sebagian diwawancarai untuk menggali cara berpikir mereka.

Merencanakan dan Mengevaluasi Jadi Titik Lemah

Hasilnya, keterampilan metakognitif siswa di ketiga wilayah berada pada kategori rendah di seluruh indikator. Siswa di Banyuwangi mencatat capaian tertinggi, sedangkan siswa di NTT secara umum terendah.

Kelemahan paling menonjol ada pada kemampuan merencanakan dan mengevaluasi. Di ketiga wilayah, skor kedua aspek ini berada di bawah 50 persen. Skor evaluasi, misalnya, hanya 25 persen di Surabaya, 29,60 persen di NTT, dan 42,29 persen di Banyuwangi. Artinya, banyak siswa kesulitan menentukan cara terbaik untuk menyelesaikan masalah, seperti pada soal pemisahan air laut menjadi air tawar.

Sebaliknya, kemampuan memantau atau memeriksa kembali jawaban menjadi aspek terkuat. Skornya melampaui 50 persen di Banyuwangi dan Surabaya.

Merasa Mampu, Hasil Tes Berkata Lain

Temuan menarik muncul saat hasil tes dibandingkan dengan angket. Dalam angket, siswa menilai kemampuan diri mereka cukup tinggi, yakni antara 67 hingga 89 persen di semua indikator. Angka ini jauh di atas hasil tes yang sebenarnya.

Menurut para peneliti, kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara penilaian diri siswa dan kemampuan nyata mereka dalam memecahkan masalah. Wawancara juga mengungkap masih adanya miskonsepsi. Misalnya, sebagian siswa menyarankan kopi untuk menghentikan pendarahan, cara yang tidak sesuai kaidah ilmiah.

Tim mengaitkan perbedaan capaian antarwilayah dengan kondisi sosial ekonomi serta akses terhadap sarana pendidikan. Mereka juga menyoroti metode mengajar yang kurang melibatkan siswa secara aktif, sehingga siswa jarang terlatih merefleksikan proses belajarnya sendiri.

Perlu Strategi Pembelajaran yang Tepat

Para peneliti merekomendasikan strategi pembelajaran yang secara khusus melatih siswa merencanakan, memantau, dan mengevaluasi cara berpikirnya, terutama di daerah dengan keterbatasan sumber daya pendidikan. Instrumen tes yang dikembangkan dalam penelitian ini telah dinyatakan valid dan reliabel oleh ahli, sehingga dapat dimanfaatkan guru untuk memetakan kemampuan siswa.

Penelitian ini didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Penelitian Dosen Pemula tahun 2024.

Bagikan artikel:
LPPM Admin Manager
PENULIS ARTIKEL

LPPM Admin Manager

Penulis konten dari LPPM UNU Pasuruan yang berdedikasi untuk membagikan informasi terkini seputar penelitian, publikasi, dan pengabdian masyarakat.