Riset Kebijakan Moneter Bawa Mahasiswi UNU Pasuruan Raih Juara 1 Economic Resilience & Muamalat di Malaysia
Nilai, Malaysia, 16 Juni 2026 – Tiga mahasiswi Program Studi Perbankan Syariah Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Pasuruan, yaitu Nia Nurhayati, Dewi Farha Rahmawati, dan Bunga Nabila Rosita, berhasil meraih penghargaan Juara 1 dalam ajang Paper Award in Economic Resilience & Muamalat pada seminar internasional yang digelar di Fakultas Ekonomi dan Muamalat, Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), Selasa (16/6). Keberhasilan ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan USIM–UNU Pasuruan, IAIH, STAIDHI International Seminar 2026 yang mengusung tema besar “Empowering Communities through Educational Innovation and Economic Resilience”.
Prestasi yang diraih oleh ketiga mahasiswi tersebut menjadi bukti nyata kapasitas riset mahasiswa Indonesia di kancah internasional, khususnya dalam mengkaji persoalan ekonomi makro yang bersinggungan langsung dengan dinamika kebijakan moneter dua negara serumpun, yakni Indonesia dan Malaysia. Kaprodi Perbankan Syariah UNU Pasuruan, Dr. Saiful Bakhri, MM, menyampaikan bahwa capaian ini tidak hanya membanggakan institusi, tetapi juga menunjukkan bahwa mahasiswa UNU Pasuruan mampu bersaing dan memberikan kontribusi pemikiran yang relevan bagi pengembangan keilmuan di tingkat ASEAN. Menurutnya, kemenangan ini sekaligus menegaskan bahwa riset-riset yang dihasilkan mahasiswa memiliki daya saing dan dapat memberikan perspektif baru dalam menghadapi tantangan ekonomi global, terutama yang berkaitan dengan ketahanan ekonomi dan kesejahteraan generasi muda.
Penelitian yang diikutsertakan dalam lomba tersebut berjudul "Studi Komparatif Kebijakan Moneter Bank Negara Malaysia dan Bank Indonesia dalam Merespons Apresiasi Dolar AS: Perspektif Ketahanan Ekonomi dan Implikasinya terhadap Daya Beli Generasi Z". Dalam presentasi mereka, ketiga mahasiswi memaparkan hasil riset yang membandingkan respons Bank Indonesia dan Bank Negara Malaysia terhadap penguatan dolar AS. Riset tersebut menemukan bahwa Indonesia menunjukkan kerentanan yang lebih tinggi akibat ketergantungan impor dan sensitivitas terhadap dinamika global, sehingga Bank Indonesia cenderung mengambil langkah agresif melalui kenaikan suku bunga dan intervensi pasar. Sementara itu, Malaysia dinilai lebih tangguh karena didukung struktur ekonomi berbasis ekspor komoditas, sehingga Bank Negara Malaysia dapat menerapkan pendekatan yang lebih gradual dan fleksibel. Perbedaan respons kebijakan tersebut kemudian dikaitkan dengan dampaknya terhadap daya beli Generasi Z, di mana kelompok usia muda di Indonesia dinilai mengalami tekanan yang lebih besar akibat inflasi dan kenaikan harga barang impor dibandingkan dengan Generasi Z di Malaysia.
Salah satu anggota tim, Nia Nurhayati, mengungkapkan bahwa proses penyusunan riset hingga presentasi di hadapan para juri dari kedua negara menjadi pengalaman yang berharga bagi mereka. Ia menambahkan bahwa kolaborasi dan diskusi dengan para akademisi dari USIM turut memperkaya perspektif mereka dalam melihat persoalan nilai tukar dan kebijakan moneter secara lebih komprehensif. Dewi Farha Rahmawati, anggota tim lainnya, menyampaikan bahwa penghargaan ini menjadi motivasi bagi mereka untuk terus mendalami kajian ekonomi Islam dan kebijakan publik yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat luas, terutama generasi muda yang akan mendominasi struktur ekonomi masa depan.
LPPM Admin Manager
Penulis konten dari LPPM UNU Pasuruan yang berdedikasi untuk membagikan informasi terkini seputar penelitian, publikasi, dan pengabdian masyarakat.
Artikel Terkait
Lihat Semua