bakteri indigenus racun merkuri inovasi berbasis hayati

Solusi Ramah Lingkungan Limbah Tambang: Tim Peneliti Temukan Bakteri Pembersih Merkuri

AS
LPPM Admin Manager
Penulis
02 September 2026
3 min read
5 views
Image of Solusi Ramah Lingkungan Limbah Tambang: Tim Peneliti Temukan Bakteri Pembersih Merkuri

PASURUAN, LPPM UNU Pasuruan

Tim peneliti lintas perguruan tinggi yang dipimpin oleh akademisi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Pasuruan berhasil menemukan inovasi berbasis hayati untuk mengatasi pencemaran limbah berat akibat aktivitas penambangan emas skala kecil. Tim riset ini mengisolasi bakteri indigenus (lokal) yang memiliki daya tahan luar biasa terhadap racun merkuri sekaligus mampu menurunkan kadar konsentrasinya secara efektif.

Penelitian ini dilakukan di area bekas penambangan emas Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, meliputi wilayah Muara Jernih, Lubuk Gaung, dan Bukit Bangkul. Kondisi air limbah di lokasi tersebut tercatat sangat asam serta mengandung kadar merkuri (Hg), Total Suspended Solids (TSS), Biochemical Oxygen Demand (BOD), dan Chemical Oxygen Demand (COD) yang melebihi baku mutu lingkungan.

Riset tersebut dilaksanakan oleh tim gabungan ilmuwan dan mahasiswa:

  • Ketua Tim Peneliti: Uun Rohmawati, S.Si., M.Sc. (Dosen Pendidikan Biologi UNU Pasuruan)

  • Anggota Peneliti: Juanita Hibatullah, M.Si. (Universitas Merangin), Achmad Rodiansyah, M.Si. (Institut Teknologi Bandung), Yunita Messe, M.Sc. (Universitas Gadjah Mada), serta Dwi Nur Aini Fajriah, S.Pd. (UNU Pasuruan)

  • Anggota Mahasiswa: Nahdiyatus Solikha (Mahasiswa Pendidikan Biologi UNU Pasuruan)

Penelitian bertajuk "Isolasi Bakteri Indigenus pada limbah Merkuri dan potensinya sebagai agen bioremediator dalam teknologi phytoremediasi" ini didanai melalui skema Hibah Penelitian Dosen Pemula (PDP) dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dengan total anggaran Rp31.670.000,00.

Dari total 51 isolat bakteri indigenus yang berhasil diisolasi dari sampel air dan sedimen limbah tambang, tim peneliti menemukan satu isolat unggulan berkode 08TBb. Isolat ini teridentifikasi secara molekular melalui analisis gen 16S rRNA sebagai spesies Stutzerimonas stutzeri. Bakteri ini menunjukkan tingkat resistensi sangat tinggi (Maximum Tolerable Concentration) hingga melebihi konsentrasi 500 ppm $Hg^{2+}$.

Pengujian Laboratorium Menggunakan instrumen Inductively Coupled Plasma-Optical Emission Spectrometry (ICP-OES) membuktikan bahwa Stutzerimonas stutzeri 08TBb mampu menurunkan konsentrasi merkuri secara signifikan seiring dengan pertumbuhan biomassa bakteri. Mekanisme penyerapan dan detoksifikasi ini didukung oleh hasil analisis Fourier Transform Infrared (FTIR) dan Scanning Electron Microscopy (SEM-EDX), yang memperlihatkan adanya pengikatan gugus fungsional permukaan sel serta pembentukan agregat partikel merkuri pada dinding sel bakteri. Selain itu, analisis metabolomik Liquid Chromatography-High Resolution Mass Spectrometry (LC-HRMS) mengonfirmasi keterlibatan metabolit antioksidan berbasis senyawa tiol seperti reduced glutathione dalam menetralkan racun merkuri.

Capaian ilmiah dari riset ini telah resmi dipublikasikan pada jurnal internasional terindeks Scopus (Q3), Applied Environmental Research, dengan judul artikel "Bioremediation Potential of Indigenous Stutzerimonas stutzeri 08TBb Isolated from Mercury-Contaminated Gold Mining Sites in Indonesia". Selain itu, karya tulis ilmiah dari riset ini juga telah memperoleh perlindungan Hak Cipta resmi dari Kementerian Hukum Republik Indonesia.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pijakan penting dalam pengembangan teknologi bioremediasi yang murah, efektif, dan ramah lingkungan untuk memulihkan ekosistem perairan dan tanah yang tercemar limbah pertambangan di Indonesia.

Penulis: Makhfud Syawaludin

Bagikan artikel:
LPPM Admin Manager
PENULIS ARTIKEL

LPPM Admin Manager

Penulis konten dari LPPM UNU Pasuruan yang berdedikasi untuk membagikan informasi terkini seputar penelitian, publikasi, dan pengabdian masyarakat.