Dorong Kemandirian Obat, Tim Penelitian UNU Pasuruan Uji 35 Varietas Bunga Krisan
PASURUAN, LPPM UNU Pasuruan
Tim peneliti dari Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Pasuruan berhasil mengungkap potensi ilmiah bunga krisan (Chrysanthemum sp.) khas Kabupaten Pasuruan sebagai bahan baku fitofarmaka, agen antibakteri, hingga produk kosmetik anti-aging. Artikel Penelitian bertajuk “Phytochemical Profiling and Bioactivity of Chrysanthemum Flowers from Pasuruan: Antioxidant, Antibacterial Potential, and Metabolite Characterization” ini dipimpin oleh dosen Pendidikan Biologi UNU Pasuruan, Shaddiqah Munawaroh Fauziah, bersama Daning Kinanti Sutama, Yunita Khilyatun Nisak, serta melibatkan mahasiswa Fatmatul Jannah.
Hasil penelitian ini telah dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi Scopus Q3, yaitu HAYATI Journal of Biosciences. Selain itu, sebagian hasil penapisan awal fitokimia dengan judul "Profil Fitokimia dan Potensi Antioksidan Beberapa Varietas Bunga Krisan (Chrysanthemum spp.)" juga telah resmi diterima (accepted) untuk terbit di jurnal terakreditasi Sinta 2, yaitu Berita Biologi yang dikelola oleh BRIN.
Riset yang didukung skema Penelitian Dosen Pemula dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini mendokumentasikan 35 varietas bunga krisan yang dibudidayakan di kawasan Pasuruan, khususnya daerah pesisir dan dataran tinggi seperti Kecamatan Tutur. Keberadaan varietas yang beranekaragam ini mempertegas posisi Kabupaten Pasuruan sebagai salah satu sentra produksi tanaman hias utama di Jawa Timur.
"Keberagaman varietas ini tidak hanya bernilai estetis sebagai bunga potong, tetapi menyimpan kandungan metabolit sekunder yang sangat kaya dan berpotensi besar dikembangkan menjadi bahan baku obat herbal maupun kosmetik berbasis kearifan lokal," terang Shaddiqah.
Dari penapisan fitokimia awal, tim riset mengidentifikasi tiga varietas unggulan dengan aktivitas antioksidan, fenol, dan flavonoid tertinggi, yaitu C. morifolium var. Yellow Fiji (BK 008), C. indicum var. Salem Lineker (BK 010), dan C. morifolium var. Purple Reagent (BK 018).
Pengujian aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa ekstrak etanol dari ketiga bunga krisan ini mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen Staphylococcus aureus (Gram positif) dan Escherichia coli (Gram negatif). Bakteri S. aureus terbukti lebih sensitif terhadap ekstrak krisan karena struktur dinding selnya yang lebih mudah ditembus oleh senyawa bioaktif.
Analisis laboratorium tingkat lanjut menggunakan instrumen FTIR, GC-MS, LC-HRMS, hingga simulasi molekuler (molecular docking) menemukan berbagai senyawa aktif potensial:
Chlorogenic Acid: Memiliki afinitas pengikatan paling tinggi terhadap protein target bakteri (GyrB dan FabI), menjadikannya kandidat kuat agen antibakteri alami.
Kaempferol: Menunjukkan kemampuan terbaik dalam menghambat protein MMP-1 dan HNE yang bertanggung jawab atas penuaan kulit, sehingga berpotensi tinggi sebagai bahan aktif anti-aging.
Oleic Acid dan Naringenin: Senyawa dominan yang berfungsi sebagai antiinflamasi, penangkal radikal bebas, serta pelindung struktur kulit dari paparan sinar UV.
Riset ini dirancang sebagai peta jalan (roadmap) jangka panjang UNU Pasuruan untuk menghasilkan formulasi produk nyata. Ke depan, ekstrak bunga krisan Pasuruan ini siap diformulasikan menjadi teh herbal kaya antioksidan, salep antibakteri, hingga krim perawatan kulit ramah lingkungan.
Capaian publikasi ilmiah serta langkah inovatif riset civitas akademika UNU Pasuruan ini membuktikan peran aktif perguruan tinggi Nahdlatul Ulama dalam mengoptimalkan potensi kekayaan alam lokal agar berdampak langsung bagi kemandirian kesehatan masyarakat dan kesejahteraan petani krisan di Pasuruan.
Penulis: Makhfud Syawaludin
LPPM Admin Manager
Penulis konten dari LPPM UNU Pasuruan yang berdedikasi untuk membagikan informasi terkini seputar penelitian, publikasi, dan pengabdian masyarakat.
Artikel Terkait
Lihat Semua